Bayi Jangan Sering Digendong
Agar tidak terus-terusan menangis, orangtua maupun pengasuh anak pun
memilih untuk sering menggendong si bayi. Ternyata, terlalu sering
menggendong bayi berdampak kurang baik.
Apa akibatnya kalau anak terus-menerus digendong? Dampak negatifnya adalah anak jadi kurang terlatih fisiknya. Ia
juga cenderung lari dari masalah ketidaknyamanan dan ketakutannya
sendiri. Kalau terus digendong, membuat anak tidak terlatih untuk
mandiri, mudah lelah, dan sakit.
Menghadapi si batita yang masih
suka minta digendong, mau tidak mau orangtua harus berani bersikap tega.
Jangan terpancing untuk selalu menuruti rengekan, teriakan, atau
tangisan si kecil yang minta digendong. Lebih baik, teliti dulu apa yang
menyebabkannya seperti itu. Orangtua harus bijak menilai kebutuhan ini,
jangan sampai anak melakukannya untuk menghindari situasi yang
seharusnya ia hadapi. Jika dibiarkan berlarut-larut, kebiasaan digendong
bisa semakin melemahkan dan melumpuhkan anak, bukan mengembangkan dan
memberdayakannya.
Hal yang sama juga disampaikan dr Attila Dewanti SpA.(dokter spesialis anak) dalam diskusinya bertajuk “Mengembangkan
kecerdasan anak sejak dini” di Brawijaya Women and Children Hospital, Jl
Taman Brawijaya, Jakarta, Sabtu (22/9/2007).
Attila kemudian menyampaikan tahapan perkembangan motorik kasar pada anak
sejak bayi. Umur 3-4 bulan, bayi mulai tengkurap. Umur 5-6 bulan duduk.
Pada umur 7-8 bulan merangkak. Lalu pada 9-11 bulan berdiri. Umur 12-13
bulan bayi berjalan. Pada umur 18 bulan mulai bisa jongkok dan berdiri.
Sedangkan di umur 36 bulan, bayi sudah bisa melakukan gerakan spesifik
dan kompleks.
“Semua tahapan itu harus dilewati. Kalau tidak melewati, orangtua
harus mengarahkan. Bila terlewat, nanti saat dewasa ada kemampuan
motorik kasar yang tidak bisa dilakukan juga,” jelas perempuan
berkacamata itu.
Ditambahkan dia, sebaiknya bayi juga tidak menggunakan baby walker. Alat ini membuat bayi pasif, berjalan jinjit, dan rentan jatuh. Pencapaian tahapan perkembangan motorik halus juga ada
tahapan-tahapannya. Misalnya saja, telapak tangan mulai terbuka biasa
dilakukan bayi umur 3 bulan. Pada umur 10 bulan sudah mulai meniru
gerakan dan suara. Karena rentan meniru, orangtua jangan menggunakan
bahasa bayi saat berkomunikasi dengan anak. Hal itu bisa mengakibatkan
anak bicara cadel meski sudah besar.
Seiring bertambahnya umur, anak mulai bisa menggunakan tangan untuk
memegang benda besar dan kecil. Mereka juga mulai bisa membalik lembaran
buku.
“Jadi sebaiknya, orangtua juga memberi kesempatan agar semua tahap
perkembangan anak berjalan normal sesuai usia. Jangan diburu-buru,”
sambung Attila.
Read Users' Comments (0)

