Arti Sebuah Penantian Cinta
Disaat aku mulai melangkahkan kaki masuk kedalam,
aku disambut dengan tajamnya cahaya sorot lampu yang menghiasi lapangan
tennis tempatku biasa berlatih bersama Bang Deni, kakakku. Jantungku
berdegup kencang melihat tatapan aneh dari sesosok adam yang tengah
berdiri di lapangan tennis bersama Kak Novi. Teman dari kakakku Bang
Deni.
‘Kenapa
jantungku berdetak tak beraturan seperti ini? Rasa apakah ini?’ Tanya
hatiku sambil meneruskan langkahku menuju tempat untuk menaruh tas dan
istirahat.
Seketika pikiranku buyar saat Kak Novi menyapaku.
“Devi…” sapanya penuh senyum manis.
Aku hanya tersenyum manis membalas sapaannya.
Saat
aku tersenyum membalas sapaan Kak Novi, laki-laki itu juga tersenyum
manis padaku. Hatiku semakin berdebar-debar melihat senyumnya yang indah
itu.
‘Kenapa aku semakin gugup saat melihat senyum yang tersungging dari wajahnya? Huft… tenang Devi, tenang.’ Ucap hatiku.
Kembali
kuberjalan menuju tempat untuk meletakkan tasku. Di tempat itu, aku
menunggun Bang Deni. Di tempat itu juga aku memperhatikan sesosok adam
yang masih bermain tennis dengan lincah.
‘Siapakah engkau wahai penggetar hatiku?’
Lamunanku
pecah, ketika Bang Deni dating dan menyapa laki-laki itu dan Kak Novi.
Dalam hati, aku bertanya ‘Siapakah dia? Kenapa aku tak pernah tahu nama
dan tak pernah melihat wajahnya?’
Bang Deni mulai berjalan menuju tampatku. Sesampainya, dia meletakkan tasnya dan duduk sebentar disampingku.
“Udah lama kamu disini?” Tanya bang Deni.
“Lumayanlah.” Jawabku singkat.
“Oh ya Bang, cowok tadi siapa? Teman Bang Deni?” tanyaku.
“Cowok mana sih?”
“Itu lho.” Jelasku sambil menunjukan telunjuk kearah laki-laki yang memandang dan tersenyum padaku tadi.
“Oh, itu Arya. Iya, dia temenku. Emang kenapa Dev?”
“Ngga apa-apa. Cuma ingin tanya aja.”
Bang Deni menatapku dengan tatapan aneh.
Di
saat aku turun berlaga bersama Bang Deni di lapangan tennis, laki-laki
yang bernama Arya itu selelu menatapku dan membuatku menjadi grogi.
“Aku capek. Mau pulang dulu.” Pintaku.
“Ya sudah sana istirahat dulu, nanti kalo sudah mendingan boleh pulang.”
Akupun
melangkahkan kaki menuju tempat dimana aku menaruh tasku tadi. Setelah
selesai istirahat, akupun beranjak dan pergi menuju rumah.
Ketika
aku sampai dirumah, aku merasa aneh dengan hati ini. Disaat jauh dengan
Arya, hati ini seperti ingin terus bersamanya dan mendekatinya. Entah
kenapa aneh rasanya saat jauh dengan Arya.
Didalam
kamar aku tersenyum sendiri layaknya orang yang sedang kehilangan
akalnya. Saat aku mengingat tatapan dan senyuman Arya yang masih terekam
indah dalam memoriku.
‘Humph…
Arya. Nama yang bagus seperti orangnya. Tuhan, apakah ini yang
dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?. Hehe… apakah aku sedang
merasakan indahnya jatuh cinta pada seseorang?’ Tanya hatiku kemudian
tersenyum sambil memejamkan mata.
Esok
harinya, Arya dan Kak Novi main kerumahku untuk mencari Bang Deni. Di
situ aku merasa senang walaupun dari jauh aku hanya dapat melihat Arya,
namun, hati ini begitu bahagianya. Entah mengapa aku baru merasakan
perasaan senang dan bahagia seperti ini.
Mereka
ternyata membasah dan membicarakan lomba tennis yang akan diadakan
akhir minggu ini. Sayang, aku ngga bisa menjadi peserta, karena aku
masih terlalu jauh teknik permainannya daripada mereka.
Beberapa
hari sebelum pertandingan, aku menyemangati Arya, untuk pertama kalinya
aku menyemangati laki-laki yang aku sayang, entah kapan rasa ini
tercipta dalam diri.
Yang pasti aku merasa bahagia saat menyemangatinya.
Hingga
suatu peristiwa terjadi, ketika aku akan meninggalkannya untuk pulang
kerumah, dan meninggalkannya di tempat latihan sendiri, diraihnya
tanganku kemudian menarikku kembali.
“Devi,
gue ngga tau apa yang harus gue katakana sama lo. Yang jelas perasaan
ini ingin selalu bersamamu mendekat padamu dan ngga mau jauh dari kamu.”
Ucapnya tiba-tiba sambil memelukku.
‘Huh?
Apakah Arya akan nyatain cintanya padaku? Apakah hari ini? Oh tuhan…
jantungku kembali berdegup kencang dan sangat kencang. Apakah………’ ucap
hatiku terhenti saat mendengar kata-kata yang indah terucap dari
bibirnya. Ucapan yang selama ini aku tunggu.
“Devi, lo mau jadi cewek gue?”
‘Apa!? Dia bener-bener nyatain cintanya padaku?’ batinku.
“Devi…
lo dengerin guekan?” ucapnya sambil melepaskan pelukannya dan melihatku
untuk menyakinkan bahwa aku itu masih sadar dan mendengarkan semua
omongannya tadi.
“Devi dengerin kok? Dan Devi…”
“Devi apa?” Tanya Arya begitu serius.
“Devi mau jadi ceweknya Arya.” Ucapku penuh senyum malu.
Saat aku mengatakan itu, dia begitu bahagia sampai-sampai senyum indah tersungging di bibirnya.
Setelah
itu, kami berdua mulai menjalani kehidupan dengan hubungan yang baru.
Hubungan kami begitu indah tak ada sedih dan duka. Namun suatu ketika
saat aku tengah di jemput olehnya, Bang Deni melihat kami berdua sedang
jalan bersama. Samar-samar aku lihat kakakku pergi dan sempat menatap
kami berdua. Dan dari situlah perasaanku mulai tak enak.
Sepulang
dari sekolah bersama Arya, aku turun dari motornya dan masuk kedalam
rumah. Sebelum masuk, aku memberikannya sebuah pelukan kasih sayang
padanya. Setelah masuk, ternyata firasat yang aku rasakan itu benar.
Bang Deni telah menungguku di ruang tamu sambil duduk di sofa panjang.
“Pulang sama siapa?” tanyanya curiga.
“Sama… sama….”
“Sama siapa?”
“Arya bang.” Jawabku lesu dengan hati yang penuh khawatir
“Sama Arya ya. Mulai sekarang kamu mulai belajar lupain dia.” Ucapnya penuh ketikdasukaan jika aku bersama Arya.
“Kenapa
bang? Bukankah dia orang yang baik? Dia ngga pernah minta apa-apa sama
Devi. Kenapa Bang Deni begitu egois? Memintaku untuk melupakannya. Itu
takkan pernah aku lakukan.” Sahutku penuh keberanian dan sedikit emosi
bercampur rasa gundah sedih menjadi satu.
“Devi!
Kamu itu belum Bang Deni perbolehin untuk memiliki kekasih atau pacar.
Kamu itu harus belajar! Inget masa depan kamu Dev! Inget! Bang Deni ngga
suka jika kamu deket-deket sama Arya. Kamu belum tau sisi buruknya
Dev.” Jelas Bang Deni.
“Tapi Bang…”
“Ngga ada kata tapi! Sekarang masuk kekamar dan lupain dia! Akhiri semua hubungan antara kalian berdua.” Bentaknya padaku.
Aku menurut dan berlari menuju kamar dengan menahan tangis.
‘Kenapa?
Kenapa semua ini harus terjadi? Apakh salah rasa cinta ini? Apakah
salah jika aku menyayangi orang yang telah lama aku tunggu?’ Tanya hatiku.
Aku
masuk kekamar dan membanting pintu kamar dengan cukup keras.
Mengungkapkan rasa ketidaksukaan dan marah bercampur benci. Aku lengsung
melempar tasku dan menumbangkan diri di kasur. Tangisku pecah butiran
kristal yang tak bersalah ini keluar begitu derasnya. Ingin aku teriak
namun tak bisa, ingin aku meronta tetapsaja tak bisa. Segera saja aku
mengirimkan pesan pada Arya.
Read Users' Comments (0)






